Ada dua hal besar yang mencuat di bumi manusia pada akhir zaman ini. Yang pertama tentang bencana alam yang diperkirakan susul menyusul dengan skala besar dan lebih dahsyat. Yang kedua tulisan yang muncul di koran-koran tentang ucapan Asma binti Abu Bakar ketika memberi petunjuk kepada Abdullah bin Zuber, puteranya ketika menghadapi ancaman dalam peperangan yang kemudian ternyata memang dibunuh dan dipenggal kepalanya oleh Hajaj bin Yusuf, kemudian diberikan kepada penguasa Bani Umaiyah sebagai hadiah. Ucapan Asma binti Abu Bakar tersebut kemudian menjadi jargon atau slogan pembangkit militansi bagi mereka yang mengakunya Islam. Pembangkit militansi garis keras itu adalah : Isy kariman au mut syahidan. Hiduplah yang mulia atau matilah mati syahid.
Adalah garis keras yang sama sekali tidak peduli terhadap nilai-nilai mengadanya kebenaran Hak Mutlak-Nya Allah Swt. Menjadi pembangkit militansi nafsu manusia bagaimana supaya hidupnya di dunia mulia dengan kekuasaan, mukti wibawa dan kajen keringan. Dan apabila hal tersebut tidak bisa diperoleh, maka mati konyol antara lain dengan melakukan bom bunuh diri, menteror dan segala macamnya, harus dilakukan. Hal yang mereka kira matinya mati syahid.
Karena itu ucapan Asma binti Abu Bakar tersebut akan saya lengkapi dan saya sempurnakan dengan ungkapan yang sejalan dengan kehendak Allah. Searah dengan nilai-nilai mengadanya kebenaran Hak Mutlak-Nya Allah Swt. Yaitu: Isy kariman ’indallah wa mut syahidan. Bukan au mut syahidan.
Hamba yang dimuliakan dihadapan Allah adalah siapa yang paling bertaqwa kepada-Nya. Hamba demikian, dengan ditarik fadhal dan rahmat Allah, matinya dijadikan mati syahid. Sewaktu-waktu mati yang akan dirasakan adalah seyakinnya merasakan indahnya mati menyaksikan Ada dan Wujud-Nya Dzatullah Yang Al Ghayb. Kemudian dengan pertolongan Allah yang menyaksikan itu masuk (pulang kembali) kepada Diri-Nya Ilaahi. Fitrah jati dirinya kembali menyatu dengan tempat asalnya, yakni Fitrah-Nya Allah Swt. Sebagaimana maksud firman-Nya QS. Al Qomar ayat 54 dan 55: Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu (merasakan betapa indahnya, betapa bahagianya, betapa tentramnya berada) di taman-taman dan sungai-sungai (gambaran rasa yang sejuk dan damai) di dalam tempat yang benar di sisinya Dzat Yang menjadi Rajanya dan Berkuasa.
Allah Azza wa Jalla menurunkan kalimat dengan firman-Nya bagi hamba-Nya yang memohon kepada-Nya agar dimasukkan ke dalam orang-orang yang menjadi saksi mengenai Ada dan Wujud Diri-Nya Ilaahi Dzat Yang sangat dekat sekali lalu dengan selamat dan dengan rasa bahagia pulang kembali kepada-Nya, QS. Ali Imran ayat 53. Di dalam ayat tersebut Allah memberikan petunjuk bahwa supaya dijadikan orang-orang yang menjadi saksi harus beriman kepada apa yang telah Allah turunkan, kemudian telah menjadi pengikut (itba’) kepada rasul, barulah pantas memohon agar dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (yang seyakinnya merasakan nyata, jelas, dan pasti mengenai Ada dan Wujud-Nya Dzat Diri-Nya Yang Al-Ghayb dan mutlak Wujud-Nya itu).
Dan yang telah diturunkan Allah adalah al Kitab, al Hikmah dan an Nubuwah. Merupakan satu paket yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Apabila tiga hal satu paket yang telah diturunkan Allah ini diingkari, dikufuri, didustakan, oleh Allah pasti diserahkan kepada kaum yang sama sekali tidak akan mengingkari (QS. Al An’am: 89). Dan diperintahkan oleh Allah yang harus diimani adalah An Nur yang telah diturunkan (QS. At Taghabun: 8). An Nuur adalah Wajhullah = Fitratallah = Kalimatan Baqiyyatan = Al Ghayb = Intinya Wahyu = Tauhid (mengenai Ada dan Wujud satu-satuNya Dzat Yang Mutlak Wujud-Nya, dekat sekali di dalam rasa hati. Senantiasa menyertai dan meliputi hamba-Nya. Sangat mudah dan sangat indah selalu diingat-ingat dan dihayati. Tempat asal fitrah manusia atau benih gaib sucinya manusia dicipta oleh Allah dan tempat tujuan pulang kembali kepada-Nya). Adalah Ilmu-Nya Allah mengenai Ada dan Wujud Dzat-Nya. Dan hanya diperoleh dengan izin dan petunjuk-Nya dari yang berhak dan sah menunjuki. Dan inilah yang sangat ditentang dan dibenci habis-habisan oleh iblis. Sebab bagi iblis hamba Allah ini satu saja yang dijadikan selamat matinya (kembali kepada-Nya) sudah terlalu banyak. Penentangan iblis ini disokong oleh nafsu manusia yang wujudnya adalah wujudnya jiwa raga manusia yang dicipta Allah dari setetes mani akan tetapi ternyata menjadi penentang yang terang-terangan (terhadap kehendak Allah dan petunjuk-Nya). (QS. Yasin 77).
Karena itu kehendak Allah dan petunjuk-Nya untuk menjadikan hamba-Nya mulia disisi-Nya, dijadikan hamba yang bertaqwanya benar-benar bertaqwa kepada-Nya juga ditentang habis-habisan. Kitabullah yang tidak ada keraguan di dalamnya, yakin dan pasti mengenai Hak Mutlak-Nya yang nyata terasa di dalam rasa, ditentang, dimusuhi, didustakan, dan bahkan dibenci dengan kesombongan yang sengit.
Kitabullah yang tidak ada keraguan di dalamnya sebagai petunjuk kepada muttaqin. Dan muttakin itu adalah orang-orang yang beriman (seyakinnya mengetahui) Ada dan Wujud-Nya Dzatullah Yang Al-Ghayb supaya shalatnya berdiri dengan khusyuk. Supaya menyadari bahwa rezeki yang diperoleh dengan memeras keringat itu adalah milik-Nya Allah sehingga dengan rela dijadikan pancatan yang kokoh pulang kepada-Nya. Dijadikan oleh Allah beriman pula kepada yang telah Dia turunkan berupa al Kitab, al Hikmah, dan an Nubuwah serta Nuur (Nur Muhammad) sehingga dengan kehidupan akherat seyakinnya dapat dirasakan dengan jelas, nyata, gamblang dan terang meski masih berada di dunia, yakni mengingat-ingat dan menghayati Isi-Nya Huw, lalu ditetapkan Allah menjadi orang yang selalu memperoleh hidayah-Nya, menjadi bahagia sejati, beruntung dan menang (dapat mengalahkan nafsu dan watak akunya), sebagaimana maksud firman Allah dalam QS. Al Baqarah ayat 2 – 5, semua itu ditentang habis-habisan oleh iblis yang dengan sungguh-sungguh disokong oleh nafsu manusia dan watak akunya.
Hal besar yang sekarang sedang terjadi susul menyusul adalah berbagai bencana. Di dalam QS. Faathir ayat 42 dan 43. Bahwa terjadinya berbagai bencana berupa azab Allah yang susul menyusul, makin besar dan makin dahsat, adalah ”sunnatu al awwalin”. Sunnah Allah sebagaimana diturunkan Allah kepada umat-umat terdahulu berupa azab dan siksa dikarenakan mendustakan rasul dan ajarannya. Padahal mereka bersumpah dengan sekuat-kuat sumpah demi Allah apabila didatangkan seorang pemberi peringatan akan menjadi umat yang lebih baik dari umat-umat yang lain. Akan tetapi setelah benar-benar datang sang pemberi peringatan yang diharap-harap itu, tidak menambah apa-apa kecuali makin juahnya mereka dari kebenaran ajaran Allah dan rasul-Nya, karena kesombongan mereka di muka bumi dan karena rencana mereka yang jahat (dengan tuduhan mengada-ada yang seharusnya menurut mereka harus disingkirkan dan dihabisi). Yang mereka nanti-nanti tidak ada lain adalah sunnatu al awwalin.
Padahal berdasar petunjuk Allah dalam firman-Nya QS. Ar Ruum ayat 41, dinampakkannya kerusakan di atas bumi dan di atas lautan, disebabkan perbuatan tangan mereka (perbuatan yang diperintah nafsu dan watak akunya) agar dirasakan menjadi peringatan supaya mereka menjadi sadar untuk kembali (kepada Allah dan rasul-Nya). Dan ternyata dengan berbagai kerusakan yang dinampakkan tersebut tetap saja tidak terjadi perubahan besar-besaran tentang kesadarannya, tetap tidak peduli dengan mengadanya kebenaran Hak Mutlak-Nya Allah Swt, mati rasa, maka sunnatu al awwalin-lah yang terjadi. Pelenyapan terhadap semua yang batal, sebagaimana maksud firman Allah dalam QS. Faathir ayat 15, 16 dan 17.
Dan yang diselamatkan oleh Allah dari pelenyapan ini adalah mereka yang menegakkan dan mengamalkan Hak Mutlak-Nya Allah Swt. Yaitu mereka yang penuh kesadaran, bersungguh-sungguh melaksanakan Dawuh Guru dengan benar dan ikhlas.
dalam setiap individu ada sebuah keyakinan dasar tentang ketauhidan atau ketuhanan. dalam satu keyakinan itu ada sebuah dasar sebuah rasa yg menghubungkan seorang hamba pada tuhanya.namun tak semua rasa itu berfungsi denagn baik sesuai hakikat fungsinya yaitu merasakan keberadaan tuhan disetiap nafasnya.adakalanya rasa itu telah terjajah oleh nafsu hingga berubah fungsi yg tadinya hakikat rsa digunakan untuk mersakan keberadaan tuhan kini telah dipkai untuk mersakan dunia.
Mengenai Saya
- nassa_nasrul
- seorang yg berharap jadi hamba yg benar" menghamba yg sejatimnya menghamba kepada yg berhak dihambai yg sekahendak dengan ilahi robbi amiennn.....
percoban pertama berhasil alhamdulillah
BalasHapus